Pendidikan agama Islam di sisi lain

Pendidikan agama Islam di sisi lain

Berpijak pada paedagogik, pendidikan agama Islam tidak sama dengan pengajaran agama Islam. Pendidikan agama Islam terbatas hanya semata-mata untuk mendidik anak-anak Islam, bukan anak-anak sembarang. Anak-anak bukan Islam tidak dituntut untuk mengikuti Pendidikana Agama Islam (PAI). Pendidikan agama Islam melalui semua bidang studi, semua bidang kegiatan, intra maupun extra kurikuler.

Pengajaran agama Islam hanya terbatas pada satu bidang studi Ke-Islaman (Pelajaran agama). Semua anak didik, baik Islam maupun bukan bisa saja mengikuti Pengajaran agama Islam, tidak terbatas semata-mata untuk anak-anak Islam.

Semua bidang studi dan semua bidang kegiatan merupakan wadah sarana untuk menyemaikan benih ruh Islam, ruh Tauhid, ruh Jihad, ruh Madaniah, untuk menaburkan, menebarkan pola pikir Islam, pola Moral Islam, ringkasnya untuk mentransfer IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB Islami secara integrated (kaffah), tak ada yang terlepas dari semangat Islam.

Islam disemaikan keseluruh bidang studi, ke seluruh bidang kegiatan, tanpa kecuali. Anak didik dididik untuk mengikuti shalat jama’ah fardhu, melaksanakan shaum Ramadhan. Pelaksanaan wudhuk anak didik dikotrol secara tgeratur. Anak didik dididik menggunakan busana yang mengikuti tuntunan Islam, mengikuti kepramukaan yang mengacu pada Islam.

Anak didik dididik mengikuti kegiatan olahraga yang memantulkan ruh jihad, bukan semata-mata untuk pembinaan kesehatan fisik, apalagi untuk pamer kebolehan prestasi pada lomba. Kesehatan fisik dapat dibina melalui puasa. Perlombaan untuk membangkitkan ruh jihad, bukan untuk merebut prestasi duniawi.

Anak didik dididik mengikuti kesenian yang mengacu pada Islam, bukan semata-mata untuk bersantai-santai. Islam tak mengenal l’art pur l’art. Menghibur diri dapat melalui shalat. Kesenangan dapat diperoleh dalam shalat.

Seluruh bidang studi dan kegiatan hendaknya dibersihkan dari hal-hal yang menyalahi Islam. Teori rente (dalam bidang studi Matematika dan Ekonomi0), teori generatio spontanea (dalam bidang studi Bilogi), teori relativitas (dalam bidang studi Fisika Kwantum) misalnya perlu dikonfrontir dengan Islam tentang ke validitasnya.

Malapetaka yang menimpa umat Islam dewasa ini bermula dari polah tingkah umat Islam itu sendiri. Umat Islam harus berani jujur mengakui kekeliruan sendiri tanpa mengkambing-hitamkan yang di luar Islam. Semua ini dalam rangka mengaca diri sendiri, menuding diri sendiri, bukan pihak lain. Nilailah diri sendiri sebelum pihak lain sempat menilai. L’histoire repite. Sejarah berulang. Apakah sejarah akan mengulas melindas gilas ? Marilah bertanya pada sejarah. Wal’ashri.

Semula umat Islam sepakat meletakkan landasan Indonesia Merdeka berdasarkan ke-Tuhanan dengan kewajiban melaksanakan syari’at Islam bagi pemeluknya. Serta merta dengan dalih tasamuh (toleransi), kesepakatan itu dicabut, bukan karena darurat (terpaksa), tetapi semataa-mata mabuk tergodaa akan sanjungan keagungan toleransi Islam.

Umat Islam tidak istiqamah (tidak konsiten), tidaka tahu mensyukuri nikmat kesepakatan. Faidza farghta fanshab. Meskipun sudah jauh terlambat, umat Islam kemudian berusaha meralatnya untuk mengembalikan kesepakatan tersebut, tetapi apalah artinya. Jatuh pada lobang pertama, menyusul jatuh pada lobang-lobang berikutnya. Selalu jatuh ketipma tangga. Untuk menghibur diri, tak apalah terlambat dari pada tak ada sama sekali. Sayang terlambatnya sudah sedemikian jauh.

Semula umat Islam berangkat dari nasionalisme ummatan wahidah, bukan nasionalisme “ashabiyah. Tapi belakangan umat Islam sudah nyenyak terlena dalam sangkar nasionalisme ‘ashabiyah. Sudah beberapa kali pemuka-pemuka Islam diberikan kesempatan oleh Allah untuk memegang tampuk pimpinan, tetapi tak mampu meralat salah langkah. Dengan tangan-tangan umat Islam sendiri, Islam itu diasingkan dari umat Islam itu.

Budaya takbur melanda dunia dewasa ini. Umat Islam tak luput dari budaya takbur itu. Yang berkuasa tak mengindahkan suara yang dikuasai, apalagi bila yang dikuasai itu tak disenangi. Sudah beberapa kali pemuka-pemuka Islam menyampaikan suaranya tapi tak pernaha digubris oleh yang berkuasa. Yang Mulia tak mengacuhkan yang tak terkenal, apalagi yang tak dikenal. Sudah berapa banyak suara umat baik dalam tatap muka, dalam surat tertutup, dalam surat terbuka yang diacuhkan. Sudahkan dijawab salam umat baik lisan maupun tulisan ?

Suasana budaya takbur mengencangkan belenggu kungkungan, yang menampakkan gejala kebangkitan neo-feodalisme. Manusia dibeda-bedakan tingkat ranking kelasnya. Lapisan bawah cepat dipensiunkan. Lapisan tengah, batas usia pensiunnya lebih panjang. Lapisan atas berbahagia menikmati batas usia pensiun terpanjang. Lapisan bawah tak mampu berbuat apa-apa,cukup nrimo. Lapisan bawah sekedar umpan peluru. Peraturan tentang batas usia pensiun hanya menguntungkan lapisan atas, pengambil keputusan. Lapisan bawah tinggal terima jadi. Apa salahnya bila batas usia untuk pensiun ditetapkan sama (tidak dibeda-bedakan) mulai dari bawah sampai atas ?

Pemuka-pemuka Islam ahli pendidikan dinantikan mengemukakan amandemen, bandingan terhadap undang-undang pendidikan. Pasal-pasal mana yang tak perlu, yang harus dihapuskan. Pasal-pasal mana yang perlu ditambahakana. Pasal-pasal mana yang perlu dirubah, direvisi, diperbarui, diperbaiki. Bagaimana seharusnya bunyi rumusan redaksional dari pasal yang diperbaiki itu. Seyogianya umat Islam mengarahkan perhatian kesini, meninggaalkan membicarakan hal-hal yang tak menguntungkan bagi keselamatan kesaatuan umat. Suara-suara umat hendaknya dimonitor, dipantau, diperhatikan bagaimana pun remehnya, baik yang langsung face to face, maupun yang tak langsung yang tersebar dalam media massa. Pemain belakang mengoper bola ke pemain tengah, pemain tengah mengoper ke pemain depan, pemain depan menyarangkan ke gawang. Tak ada yang terbuang. Tak ada yang diremehkan.

# Terpesona akan keunggulan kemajuan sains dan teknologi Barat, umat Islam mengoper bidang studi keilmuan tanpa melakukan amandemen, perubahan, perbaikan, tanpa membersihkannya dari yang tak Islami, tanpa mengisinya dengan ruh iIslam.

# Pendidikan agama Islam berusaha menggerakkan kesadaran beragama dan kesadaran beramal anak didik agar : Beriman teguh (bertakwa). Berakhlak tinggi (berbudi luhur). Berpengetahuan luas (berkecerdasan tinggi). Berkemampuan (berketerampilan tinggi0). Berkehidupan baik. Kuat beribadah. Giat beramar makruf, nahi munkar. Giat beramal tolong menolong.

# Upaya menyingkirkan bidang studi Islam dari kurikulum umum tak pernah berhenti.

# Guru-guru Muslim dan penulis-penulis buku pelajaran sekolah (SD-SLTP-SMU) diharapkan kiranya dapat memanfa’atkan bidang studi sebagai wadah, srana bagi penyampaian pesan ajaran Islam.

# Kendala yang mengungkung berupa target kurikulum (garis besar pelajaran – sitim pendidikan nasional).

# Dibuhkan kemantapan tekad untuk membebaskan diri dari lilitan kungkungan terseut.

# Nabi Musa ditugaskan membebaskan Bani Israil. Nabi Musa mempertanyakan apakah memperbudah manusia (Bani Israil) itu merupakan jasa baik (nikmat) penguasa ? (QS Syu’ara 26;17-22).

# Sanusi Pane meradang, bukan beta budak negeri mesti menurut undangan mair.

# Bila sampai waktunya, Chairil Anwar mau bebas, tak mau terikat oleh rayuan tradisi.

# IPA kiranya dapat dimanfa’atkan sebagai wadah, sarana penyampaian pesan ajaran Islam yang terkandung dalam kitab tauhid.

# IPS kiranya dapat dimanfa’atkan sebagai wadah, sarana penyampaian pesan ajaran Islam yang terkandung dalam kitab akhlak.

# PKK, Orkes, Matematika, Linguistik kiranya dapat dimanfa’atkan sebagai wadah, sarana penyampaian pesan ajaran Islam yang tersimpan dalam kitab kuning.

# Akhlak Islam berasal dari tuntunan Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw mengenai sopan santun di segala lapangan (IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB).

# Untuk sementara sebaiknya perguruan Islam menyisipkan bidang Sejarah Perkembangan Sains dan Teknologi, Qur:an, Sains dan Teknologi, Falsafah Pendidikan Islam sebagai extra kurikuler.

Materi Sejarah Perkembangan Sains dan Teknologi seperti termaktub dalam buku A History of Invention, karangan Egon Larsen yang diterjemahkan oleh Mohammad Ridwan dkk, terbitan Djambata, Jakarta, 1981.

Materi Qur:an, Sains dan Teknologi seperti termaktub dalam buku Al-Qur:an wal “Ulumul “Ashriyah, karangan Prof Dr Syaikh Thanthawi Jauhari yang diterjemahkan oleh Drs Muhammadiyah Ja’far, terbitan al-Ikhlas, Surabaya, 1984.

Materi Falsafah Pendidikan Islam seperti termaktub dalam buku Falsafat Tarbiyah al-Islamiyah, karangan Prof Dr Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany yang diterjemahkan oleh Dr Hasan Langgulung, terbitan Bulan Bintang, Jakarta, 1983

# Sebagai bahan rujukan barangkali dapat digunakan karya-karya tentang Sains dan Teknologi sejenis karya Ustadz Thanthawi Jauhari, Dr Maurice Bucaile.

Demikian diantara suara umat, suara hati ke hati, yang sempat direkam.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: